Selasa, 05 Agustus 2008
Kursus Pelatih (Suspelat) Menwa se-Indonesia

Komando Resimen Mahasiswa Mahasurya Jawa Timur Satuan 803 Universitas Brawijaya Malang mengadakan kegiatan Kursus Pelatih (Suspelat) Menwa se-Indonesia. Kegiatan Suspelat ini merupakan kegiatan yang ke-21 yang diikuti oleh 94 peserta mewakili 50 perguruan tingi se-Indonesia. Bertempat di Dodik Belanegara malang, Jawa Timur, kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 14 smpai 23 Juli 2008. Dari 94 peserta tersebut juga termasuk 6 orang dari Mahawarman yang terdiri dari 5 perwakilan dari Yon XI/UPI dan 1 orang dari Kompi BS Unjani.
Tujuan kegiatan ini adalah meningkatkan kemampuan anggota Resimen Mahasiswa agar mengerti akan tugas dan fungsi serta tanggunga jawab Pelatih di satuan Resimen Mahasiswa sehingga dapat mendukung tugas dan pekerjaan kepelatihan. Adapun materi pelatihan ini antara lain adalah Etika dan Kejiwaan Pelatih, Psikologi Pelatih, Kepemimpinan Lapangan, Sistem Pembinaan Latihan, CMI, Binlatsat, Teknik penyelenggaraan latihan, Teknik Survey dan Analisa Daerah Latihan (ADL), Lanjutan Materi Dikdasar dan materi tambahan lainnya meliputi Outbond, serta kunjungan ke Lokasi Wisata Coban Rondo Malang serta Lanud Abdurahman Saleh. Kunjungan ini, dimaksudkan untuk menambah wawasan kepada calon-calon Pelatih Resimen Mahasiswa se-Indonesia tentang matra udara, dan diharapkan para kursus pelatih Menwa tersebut nantinya dapat menyebarluaskan matra udara ini kepada calon-calon anggota Menwa se-Indonesia sehingga timbul kecintaan terhadap kedirgantaraan, khususnya TNI Angkatan Udara.
Dalam kesempatan tersebut Kadisops memaparkan tentang sejarah Lanud Abd Saleh serta menjelaskan kekuatan pesawat yang ada di Lanud Abd Saleh saat ini. Kolonel Penerbang Ismet merasa bangga dan merupakan suatu kehormatan bahwa Menwa "Maha Surya" Jawa Timur telah memilih Lanud Abd Saleh sebagai tempat kunjungan bagi peserta Kursus Pelatih Menwa se-Indonesia. Lebih lanjut Kolonel Ismet dalam hal ini mewakili Komandan Lanud Abd Saleh Marsekal Pertama TNI Irawan Supomo, SE. SIP, mengharapkan kepada peserta pelatihan Menwa untuk selalu menegakkan disiplin sebagaimana yang diterapkan di lingkungan TNI, karena dengan disiplin, kita akan mematuhi semua peraturan yang berlaku di negara ini dan tidak akan melakukan hal-hal yang tidak dinginkan. "Hal ini mengingat Resimen Mahasiswa merupakan salah satu kekuatan cadangan dalam sistem Pertahanan Nasional", tegasnya. Kunjungan yang dilaksanakan selama satu hari ini, diakhiri dengan Joy Flight menggunakan pesawat Hercules keliling kota Malang. (utami&tni.mil.id)
Berita dari Menwa ITB
BANDUNG, itb.ac.id - Pada tanggal 19–23 Juni 2008, delegasi Resimen Mahasiswa Mahawarman Batalyon I/ITB (Menwa Yon-I/ITB) melawat ke Malaysia dalam rangka kunjungan balasan ke Pasukan Latih Pegawai Simpanan Universiti Malaya (PALAPES UM).
PALAPES adalah organisasi perwira cadangan yang ekivalen dengan Menwa di Indonesia. Pada Desember 2007 lalu, delegasi PALAPES UM telah terlebih dahulu melakukan kunjungan ke Menwa Yon-I/ITB.
Delegasi Menwa Yon-I/ITB terdiri dari 3 anggota aktif yaitu Enrico Aryyaguna (PN'04), Kenny Enrich (IF'04), dan Reni Novyianti (MT'06). Mereka didampingi oleh Dr. Wahyudi W. Parnadi dari Kelompok Keahlian Ilmu dan Teknik Geofisika selaku Pembina Menwa, serta Dr. Iftikar Sutalaksana mewakili Corps Menwa ITB.
Agenda utama kunjungan adalah menghadiri “Istiadat Pentauliahan Di Raja Pegawai Kadet”, Upacara Pelantikan Diraja Perwira Kadet, yang melantik sekitar 1500 orang perwira kadet PALAPES dari seluruh Perguruan Tinggi Negeri se-Malaysia, pada Sabtu, 21 Juni 2008.
Secara tradisi, pelantikan dilakukan oleh Yang Dipertuan Agung, namun tahun ini diwakili oleh Yang Dipertuan Besar Negeri Sembilan Darul Khusus (Sultan/pemimpin dari Negeri Sembilan). Para kadet dilantik setelah menjalani pendidikan dan pelatihan selama 3 tahun.
Berbeda dengan pembinaan Menwa di Indonesia yang semenjak tahun 2000 hanya dibina oleh PERTI (perguruan tinggi) masing-masing, PALAPES di Malaysia dibina oleh PERTI tempat satuan PALAPES bernaung dan juga Departemen Pertahanan sebagai penyedia perlengkapan, peralatan, dan pelatihan kemiliteran. Dalam struktur komando setiap unit PALAPES, Naib Canselor (Rektor) bertindak selaku Komandan PALAPES, sementara Wakil Komandan selaku pengatur kegiatan harian dijabat oleh dosen dari PERTI tersebut, dimana dosen tersebut juga merupakan lulusan PALAPES. PALAPES juga merupakan suatu Pusat Tanggung Jawab sendiri dan tidak berada di bawah HEPA - wakil rektor kemahasiswaan-.
Sebagai bagian dari universitas tertua di Malaysia (berdiri 1905), PALAPES Universiti Malaya memperoleh dana pembinaan tahunan dari pemerintah sebesar 7,5 milyar rupiah, dengan sekitar 1,7 milyar rupiah dari Universitas itu sendiri.
Program padat lima hari hasil rancangan panitia dari PALAPES Universiti Malaya memberikan banyak manfaat bagi keberadaan dan pengembangan Menwa Yon-I/ITB sebagai Unit Kegiatan Mahasiswa bidang Kepemimpinan/Pendidikan, dan sebagai wadah Bela negara. Beberapa manfaat tersebut antara lain: pengetahuan mengenai perancangan dan implementasi program PALAPES sebagai wadah pelatihan dan pembinaan kepemimpinan berwawasan kebangsaan, pengintegrasian sipil dan militer sebagai sistem efektif (Total Defence) dalam program Bela Negara, serta realisasi Universiti Malaya dalam membentuk warganegara yang sempurna, berdisiplin, serta terlatih dalam pertahanan dan ketahanan nasional.
PALAPES adalah organisasi perwira cadangan yang ekivalen dengan Menwa di Indonesia. Pada Desember 2007 lalu, delegasi PALAPES UM telah terlebih dahulu melakukan kunjungan ke Menwa Yon-I/ITB.
Delegasi Menwa Yon-I/ITB terdiri dari 3 anggota aktif yaitu Enrico Aryyaguna (PN'04), Kenny Enrich (IF'04), dan Reni Novyianti (MT'06). Mereka didampingi oleh Dr. Wahyudi W. Parnadi dari Kelompok Keahlian Ilmu dan Teknik Geofisika selaku Pembina Menwa, serta Dr. Iftikar Sutalaksana mewakili Corps Menwa ITB.
Agenda utama kunjungan adalah menghadiri “Istiadat Pentauliahan Di Raja Pegawai Kadet”, Upacara Pelantikan Diraja Perwira Kadet, yang melantik sekitar 1500 orang perwira kadet PALAPES dari seluruh Perguruan Tinggi Negeri se-Malaysia, pada Sabtu, 21 Juni 2008.
Secara tradisi, pelantikan dilakukan oleh Yang Dipertuan Agung, namun tahun ini diwakili oleh Yang Dipertuan Besar Negeri Sembilan Darul Khusus (Sultan/pemimpin dari Negeri Sembilan). Para kadet dilantik setelah menjalani pendidikan dan pelatihan selama 3 tahun.
Berbeda dengan pembinaan Menwa di Indonesia yang semenjak tahun 2000 hanya dibina oleh PERTI (perguruan tinggi) masing-masing, PALAPES di Malaysia dibina oleh PERTI tempat satuan PALAPES bernaung dan juga Departemen Pertahanan sebagai penyedia perlengkapan, peralatan, dan pelatihan kemiliteran. Dalam struktur komando setiap unit PALAPES, Naib Canselor (Rektor) bertindak selaku Komandan PALAPES, sementara Wakil Komandan selaku pengatur kegiatan harian dijabat oleh dosen dari PERTI tersebut, dimana dosen tersebut juga merupakan lulusan PALAPES. PALAPES juga merupakan suatu Pusat Tanggung Jawab sendiri dan tidak berada di bawah HEPA - wakil rektor kemahasiswaan-.
Sebagai bagian dari universitas tertua di Malaysia (berdiri 1905), PALAPES Universiti Malaya memperoleh dana pembinaan tahunan dari pemerintah sebesar 7,5 milyar rupiah, dengan sekitar 1,7 milyar rupiah dari Universitas itu sendiri.
Program padat lima hari hasil rancangan panitia dari PALAPES Universiti Malaya memberikan banyak manfaat bagi keberadaan dan pengembangan Menwa Yon-I/ITB sebagai Unit Kegiatan Mahasiswa bidang Kepemimpinan/Pendidikan, dan sebagai wadah Bela negara. Beberapa manfaat tersebut antara lain: pengetahuan mengenai perancangan dan implementasi program PALAPES sebagai wadah pelatihan dan pembinaan kepemimpinan berwawasan kebangsaan, pengintegrasian sipil dan militer sebagai sistem efektif (Total Defence) dalam program Bela Negara, serta realisasi Universiti Malaya dalam membentuk warganegara yang sempurna, berdisiplin, serta terlatih dalam pertahanan dan ketahanan nasional.
Rabu, 18 Juni 2008
Psikologi Militer
Militer adalah sekumpulan manusia yang diorganisasikan dan yang dipersiapkan untuk perang sebagai tujuan utamanya. Sejalan dengan perkembangan zaman, pengertian perang sangatlah luas, bukan hanya mencakup sifat menyerang dan mempertahankan seperti dahulu, melainkan jauh lebih kompleks.
Perang modern bukan hanya kekuatan yang bersifat fisik, adu otot ataupun adu senjata, tetapi juga fungsi dari pikiran (mind) yang memegang peranan yang sangat penting. Hal tersebut terlihat dari pemakaian banyak terminologi seperti Hot War, Cold War, Political Warfare, Economic Warfare dan Psychological Warfare.
Dengan demikian bukan saja alat, peranan manusia dalam perang menjadi sangat penting (the man behind the gun). Untuk itu perlu dibedakan antara manusia militer sebagai individu dan manusia militer sebagai makhluk sosial.
Perang modern bukan hanya kekuatan yang bersifat fisik, adu otot ataupun adu senjata, tetapi juga fungsi dari pikiran (mind) yang memegang peranan yang sangat penting. Hal tersebut terlihat dari pemakaian banyak terminologi seperti Hot War, Cold War, Political Warfare, Economic Warfare dan Psychological Warfare.
Dengan demikian bukan saja alat, peranan manusia dalam perang menjadi sangat penting (the man behind the gun). Untuk itu perlu dibedakan antara manusia militer sebagai individu dan manusia militer sebagai makhluk sosial.
Selasa, 17 Juni 2008
Alumni Resimen Mahasiswa (Alumni Menwa)
Semangat melanjutkan pengabdian tanpa putus dari Almamater tercinta dalam memberikan sumbangsih yang berarti bagi pertahanan negara maupun pemeliharaan kesejahteraan masyarakat
Pada dasarnya, Alumni Menwa merupakan status yang diperoleh secara alami oleh seorang anggota Menwa yang telah mengakhiri masa baktinya di keanggotaan aktif Menwa, baik itu karena berakhirnya studi, sesuai dengan penjadwalan masa studi dari masing – masing anggota Menwa di perguruan tinggi, maupun karena terputusnya masa studi, akibat sesuatu sebab tertentu yang tidak dapat dihindari dalam keadaan normal.
Namun demikian, apapun penyebab berakhirnya kegiatan studi dari seorang anggota Menwa, titik tolak yang utama dari penentuan status seseorang sebagai “Alumni Menwa” lebih didasarkan pada bukti keterlibatan langsung seorang mahasiswa secara organik dalam organisasi Menwa, baik melalui keikutsertaan di Menwa secara langsung, maupun secara tidak langsung melalui jalur sinergi.
Cara penentuan status ini diambil oleh Organisasi Alumni Menwa, mengingat dari catatan sejarahnya, pernah terjadi beberapa jenis program wajib latih mahasiswa yang akhirnya disinergikan atau digabungkan secara organik dengan organisasi Menwa. Jenis – jenis program latih mahasiswa tersebut adalah Wajib Latih Mahasiswa (Walawa) oleh Militer serta Wajib Latih Khusus di beberapa lembaga pendidikan kedinasan, seperti, Politeknik, APDN (akhirnya menjadi STPDN) atau di beberapa akademi dan sekolah tinggi tertentu, seperti akademi peternakan, perawat dan pelayaran.
Program wajib latih mahasiswa oleh militer di perguruan tinggi umum/non kedinasan, timbul sebagai konsekuensi diberlakukannya program Walawa melalui Keputusan Menhankam No. Kep/B/32/1968, tanggal 14 Februari 1968, tentang pengesahan Naskah Rencana Realisasi Program Sistem Wajib Latih dan Wajib Militer bagi Mahasiswa. Dilanjutkan operasionalisasinya dengan Keputusan Bersama Dirjen Pendidikan Tinggi dan Kepala Staf Komando Pendidikan Wajib Latih Mahasiswa (Kas Kodik Walawa) No. 2 tahun 1968.
Sedangkan untuk para mahasiswa peserta Wajib Latih di beberapa lembaga pendidikan kedinasan, memang harus menempuh pelatihan wajib sebagaimana yang disyaratkan oleh perguruan tingginya. Dan sesuai dengan kebijakan dari pimpinan perguruan tinggi yang bersangkutan, maka akhirnya program wajib latih tersebut disinergikan melalui program Pendidikan Dasar Menwa, yang memang telah memiliki kualitas sebagai jenis pendidikan dan latihan dasar bagi sukarelawan dan milisi. Konsekwensinya mereka akhirnya lulus pendidikan dan latihan sebagai seorang anggota Menwa.
Status ini menjadi semacam “pintu masuk” bagi langkah pengabdian selanjutnya pada bangsa dan negara. Untuk itu Alumni Menwa telah mengorganisir diri dalam suatu organisasi yang disebut sebagai Ikatan Alumni Menwa Indonesia. Keberadaan Alumni Menwa dalam melaksanakan fungsi pertahanan negara juga memiliki arti yang sangat strategis. Walaupun potensi ini tidak diorganisir dalam struktur komando militer, namun organisasi ini berperan penting sebagai wahana konsolidasi, pembinaan dan koordinasi bagi para Alumnus dari suatu program partisipasi aktif di bidang wanra dan linmas. Sebagaimana layaknya alumnus perguruan tinggi, maka para alumni Menwa juga telah berkiprah sesuai dengan bidang keilmuan, profesi dan pekerjaannya dalam berbagai sektor kehidupan masyarakat. Hal ini tentu sangat mendukung setiap upaya pemasyarakatan Pendidikan Pendahuluan Bela Negara (PPBN) bagi lingkungan pendidikan, pekerjaan dan pemukiman di mana para alumni Menwa berada, sehingga mampu membentuk sikap dan perilaku masyarakat yang dijiwai oleh kecintaannya kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang – Undang Dasar 1945 dalam menjamin kelangsungan hidup bangsa dan negara.
Selain itu melalui Ikatan Alumni Menwa dapat dikonsolidasikan serta dilakukan berbagai kegiatan yang berarti bagi pertahanan negara maupun pemeliharaan kesejahteraan masyarakat dalam bentuk – bentuk seperti forum ilmiah yang dapat berdaya guna untuk memperkuat sektor pertahanan negara, pelatihan kepemimpinan dan manajerial bagi pemuda dan pelajar, bakti sosial profesi berupa pengobatan gratis, bantuan hukum dll. Hal ini tentunya tidak dapat dipandang sebelah mata serta merupakan potensi yang sangat strategis.
Pada dasarnya, Alumni Menwa merupakan status yang diperoleh secara alami oleh seorang anggota Menwa yang telah mengakhiri masa baktinya di keanggotaan aktif Menwa, baik itu karena berakhirnya studi, sesuai dengan penjadwalan masa studi dari masing – masing anggota Menwa di perguruan tinggi, maupun karena terputusnya masa studi, akibat sesuatu sebab tertentu yang tidak dapat dihindari dalam keadaan normal.
Namun demikian, apapun penyebab berakhirnya kegiatan studi dari seorang anggota Menwa, titik tolak yang utama dari penentuan status seseorang sebagai “Alumni Menwa” lebih didasarkan pada bukti keterlibatan langsung seorang mahasiswa secara organik dalam organisasi Menwa, baik melalui keikutsertaan di Menwa secara langsung, maupun secara tidak langsung melalui jalur sinergi.
Cara penentuan status ini diambil oleh Organisasi Alumni Menwa, mengingat dari catatan sejarahnya, pernah terjadi beberapa jenis program wajib latih mahasiswa yang akhirnya disinergikan atau digabungkan secara organik dengan organisasi Menwa. Jenis – jenis program latih mahasiswa tersebut adalah Wajib Latih Mahasiswa (Walawa) oleh Militer serta Wajib Latih Khusus di beberapa lembaga pendidikan kedinasan, seperti, Politeknik, APDN (akhirnya menjadi STPDN) atau di beberapa akademi dan sekolah tinggi tertentu, seperti akademi peternakan, perawat dan pelayaran.
Program wajib latih mahasiswa oleh militer di perguruan tinggi umum/non kedinasan, timbul sebagai konsekuensi diberlakukannya program Walawa melalui Keputusan Menhankam No. Kep/B/32/1968, tanggal 14 Februari 1968, tentang pengesahan Naskah Rencana Realisasi Program Sistem Wajib Latih dan Wajib Militer bagi Mahasiswa. Dilanjutkan operasionalisasinya dengan Keputusan Bersama Dirjen Pendidikan Tinggi dan Kepala Staf Komando Pendidikan Wajib Latih Mahasiswa (Kas Kodik Walawa) No. 2 tahun 1968.
Sedangkan untuk para mahasiswa peserta Wajib Latih di beberapa lembaga pendidikan kedinasan, memang harus menempuh pelatihan wajib sebagaimana yang disyaratkan oleh perguruan tingginya. Dan sesuai dengan kebijakan dari pimpinan perguruan tinggi yang bersangkutan, maka akhirnya program wajib latih tersebut disinergikan melalui program Pendidikan Dasar Menwa, yang memang telah memiliki kualitas sebagai jenis pendidikan dan latihan dasar bagi sukarelawan dan milisi. Konsekwensinya mereka akhirnya lulus pendidikan dan latihan sebagai seorang anggota Menwa.
Status ini menjadi semacam “pintu masuk” bagi langkah pengabdian selanjutnya pada bangsa dan negara. Untuk itu Alumni Menwa telah mengorganisir diri dalam suatu organisasi yang disebut sebagai Ikatan Alumni Menwa Indonesia. Keberadaan Alumni Menwa dalam melaksanakan fungsi pertahanan negara juga memiliki arti yang sangat strategis. Walaupun potensi ini tidak diorganisir dalam struktur komando militer, namun organisasi ini berperan penting sebagai wahana konsolidasi, pembinaan dan koordinasi bagi para Alumnus dari suatu program partisipasi aktif di bidang wanra dan linmas. Sebagaimana layaknya alumnus perguruan tinggi, maka para alumni Menwa juga telah berkiprah sesuai dengan bidang keilmuan, profesi dan pekerjaannya dalam berbagai sektor kehidupan masyarakat. Hal ini tentu sangat mendukung setiap upaya pemasyarakatan Pendidikan Pendahuluan Bela Negara (PPBN) bagi lingkungan pendidikan, pekerjaan dan pemukiman di mana para alumni Menwa berada, sehingga mampu membentuk sikap dan perilaku masyarakat yang dijiwai oleh kecintaannya kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang – Undang Dasar 1945 dalam menjamin kelangsungan hidup bangsa dan negara.
Selain itu melalui Ikatan Alumni Menwa dapat dikonsolidasikan serta dilakukan berbagai kegiatan yang berarti bagi pertahanan negara maupun pemeliharaan kesejahteraan masyarakat dalam bentuk – bentuk seperti forum ilmiah yang dapat berdaya guna untuk memperkuat sektor pertahanan negara, pelatihan kepemimpinan dan manajerial bagi pemuda dan pelajar, bakti sosial profesi berupa pengobatan gratis, bantuan hukum dll. Hal ini tentunya tidak dapat dipandang sebelah mata serta merupakan potensi yang sangat strategis.
Kamis, 12 Juni 2008
Apakah Menwa itu?

Resimen Mahasiswa (Menwa) adalah salah satu di antara sejumlah kekuatan sipil untuk mempertahankan negeri. Ia lahir di perguruan tinggi sebagai perwujudan Sistem Pertahanan dan Keamanan Rakyat Semesta (Sishankamrata), beranggotakan para mahasiswa yang merasa terpanggil untuk membela negeri. Para anggota Menwa (wira) di setiap kampus membentuk satuan, yang disebut Satuan. Sebagai salah satu unit kegiatan kemahasiswaan, komandan satuan melapor langsung kepada rektor/pimpinan perguruan tinggi.
Komponen Lambang Sembilan Unsur
1.Perisai Segilima
Menggambarkan keteguhan sikap
2.Padi dan Kapas
Menggambarkan dasar bernegara dan pandangan hidup bangsa Indonesia, yaitu Pancasila.
3.Bintang , Sayap Burung , Jangkar dan Lambang Polri
Resimen Mahasiswa berada di bawah naungan ketiga unsur angkatan dan Polri
4.Pena dan Senjata
Di dalam pengabdiannya, wira melakukan keselarasan antara ilmu pengetahuan dan ilmu keprajuritan.
5.Buku Tulis
Tugas pokok setiap wira adalah mengembangkan ilmu pengetahuan, di samping melaksanakan tugas-tugas kemenwaan.
Warna Kebanggaan
Resimen Mahasiswa Indonesia menggunakan baret ungu. Dalam aplikasinya di lingkungan Menwa, warna ini mempunyai arti :
-Mulia
-Berpengetahuan
-Terpelajar
Panca Dharma Satya
Panca Dharma Satya adalah janji Resimen Mahasiswa Indonesia :
1. Kami adalah mahasiswa warga Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila.
2. Kami adalah mahasiswa yang sadar akan tanggung jawab serta kehormatan akan pembelaan negara
dan tidak kenal menyerah.
3. Kami Putra Indonesia yang berjiwa ksatria dan bertakwa kepada Tuhan Yang Mahaesa serta
membela kejujuran, kebenaran dan keadilan.
4. Kami adalah mahasiswa yang menjunjung tinggi nama dan kehormatan Garba Ilmiah
dan sadar akan hari depan Bangsa dan Negara.
5. Kami adalah mahasiswa yang memegang teguh disiplin lahir dan batin, percaya pada diri sendiri
dan mengutamakan kepentingan Nasional di atas kepentingan pribadi mau pun golongan.
Semboyan
Semboyan Resimen Mahasiswa Indonesia adalah "Widya Castrena Dharmasiddha", berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti "Penyempurnaan Pengabdian Dengan Ilmu Pengetahuan dan Ilmu Keprajuritan". Yang dimaksudkan oleh Ilmu Pengetahuan adalah segala macam cabang keilmuan yang didapat saat menjadi mahasiswa. Hal ini dipergunakan untuk menempuh jenjang karier, dengan tidak melupakan tujuan utama melakukan pengabdian pada masyarakat. Sedangkan Ilmu Keprajuritan adalah yang bersangkutan dengan jiwa keperwiraan, keksatriaan serta kepemimpinan, bukan sekadar keahlian dalam bertempur atau pun yang sejenis.
Sejarah
Tanggal 13 Juni - 14 September 1959 diadakan wajib latih bagi para mahasiswa di Jawa Barat. Mahasiswa yang memperoleh latihan ini siap mempertahankan home-front dan bila perlu ikut memanggul senapan ke medan laga. Mahasiswa-mahasiswa walawa (WAJIB LATIH) dididik di Kodam VI/ Siliwangi dan para walawa diberi hak mengenakan lambang Siliwangi.
Pada tanggal 19 Desember 1961 di Yogyakarta, Komando Pimpinan Besar Revolusi Presiden RI Bung Karno mencetuskan Trikora. Seluruh rakyat menyambut komando ini dengan gegap gempita dengan semangat revolusi untuk merebut Irian Barat; termasuk juga mahasiswanya.
Isi Trikora:
1. Pantjangkan Sangsaka Merah Putih di Irian Barat
2. Gagalkan Negara Boneka Papua
3. Adakan Mobilisasi Umum
Sejak Trikora bergema maka kewaspadaan nasional makin diperkuat, makin memuncak sehingga timbul rencana pendidikan perwira cadangan di Perguruan Tinggi. Berdasarkan dua surat keputusan Pangdam VI Siliwangi, maka oleh pihak Universitas pada 20 Januari 1962 dibentuk suatu badan koordinasi yang diberi nama Badan Persiapan Pembentukan Resimen Serba Guna Mahasiswa Dam VI Siliwangi (disingkat BPP) Resimen Mahasiswa DAM VI/ Siliwangi, beranggotakan :
1. Prof. drg. R. G. Surya Sumantri ( Rektor Unpad) selaku Koordinator
2. Dr. Isrin Nurdin (Pembantu Rektor ITB) selaku Wakil Koordinator I
3. Drs. Kusdarminto (PR Unpar) selaku wakil Koordinator II
4. Major. Moch. Sunarman dari PUS PSYAD pada waktu itu selaku sekretaris.
Pada Februari 1962 diadakan Refreshing Course selama sepuluh minggu di Resimen Induk Infantri dan dilanjutkan dengan latihan selama 14 hari yang dikenal dengan sebutan Latihan Pasopati. Pada 20 Mei 1962 anggota Resimen Mahasiswa Angkatan 1959 dilantik oleh Pangdam VI/SLW menjadi bagian organik dari Kodam VI/SLW. Dalam rencana kerja empat tahunnya tercantumlah pembentukan kader inti dan ini sudah terlaksana sejak permulaan semester 2 tahun ajaran 1962-1963. termasuk pembentukan kader inti putri. Mahasiswa/i Jabar (Bandung khususnya) mengikuti Latihan di Bihbul, tempat penggodokan prajurit-prajurit TNI. (Sekarang Secaba Dam III/ Slw, Bihbul). Satuan-satuan inti dari Yon mahasiswa dari beberapa universitas dan akademi dikirim ke tempat ini di bawah asuhan pelatih-pelatih dari RINSIL. 12 Juni 1964 keluarlah Surat Keputusan Menteri Koordinator Komponen Pertahanan dan Keamanan DR. A.H. Nasution Jenderal TNI yang mengesahkan Duaja Resimen Mahawarman. Penyerahan Duaja dilakukan oleh Menko sendiri. Garuda Mahawarman resmi berdiri berdampingan dengan Harimau Siliwangi.
Satuan-Satuan di Republik Indonesia
-Indra Pahlawan di Riau
-Jayakarta di Daerah Khusus Ibukota Jakarta
-Mahabanten di Banten
-Mahadarma di Timor Timur (belum dibubarkan hingga 10-Oktober-2004)
-Mahadwiyudha di Bengkulu
-Mahadana di Nusa Tenggara Timur
-Mahadasa di Daerah Istimewa Aceh
-Mahadipa di Jawa Tengah
-Mahajani Nusa Tenggara Barat
-Mahakarta Daerah Istimewa Yogyakarta
-Mahaleo di Sulawesi Tenggara
-Mahamaku di Ambon
-Mahanata di Kalimantan Selatan
-Mahapura di Kalimantan Barat
-Maharatan di Lampung
-Maharuyung di Sumatera Barat
-Mahasamrat di Sulawesi Utara
-Mahasena di Bali
-Mahasurya di Jawa Timur
-Mahatara di Sumatera Utara
-Mahawarman di Jawa Barat
-Mahawijaya di Sumatera Selatan
-Mahawasih di Irian Jaya
-Mulawarman di Kalimantan Timur
-Pawana Cakti di Sulawesi Tengah
-Sultan Thaha di Jambi
-Wolter Monginsidi di Sulawesi Selatan
-Raja Haji di Tanjungpinang, Kepulauan Riau
Alumni Menwa yang Terkenal
Menwa Batalyon I/ITB
-Arifin Panigoro
-Fadel Muhammad
Menwa Akademi Teknik Jenderal Achmad Yani
-Abdullah Gymnastiar
Langganan:
Postingan (Atom)
.jpg)